Bahagia telah mati
Aku berusaha tersenyum untuk kalian. Aku berusaha menyelesaikan masalahku sendiri. Aku menjadi penasehat terbaik untuk kalian, menebar tawa, senyum, bahagia. Namun, apakah kalian tau itu semua bukan diriku sesungguhnya. Aku yang sesungguhnya ialah saat aku sendiri. Aku mulai gila daat dimana semua masalah dibebankan kepadaku, cacian, makian, hinaan, bahkan kekerasan membuatku gila. Setiap aku pulang, aku menyendiri di dalam bilik kamarku, keluar kamar hanya sesekali itupun saat makan ataupun kekamar mandi. Tapi orangtua ku tak mengukai itu, jika aku hanya berdiam diri saja dirumah aku selalu dimarahi, ya aku tau aku ini anak berpenyakitan yang tak tau diri. Disini aku hidup dengan keluarga kandungku, namun ku merasa mereka semua bukanlah keluargaku. Aku benci keluargaku, tapi aku tak bisa berbuat apa apa selain menyakiti diriku. Ada beberapa teman yang mengetahui keadaan ku, tetapi mereka hanya menyalahkan ku, menyuruh ku untuk bersabar dan bersabar. Aku sudah...